MEDIALIGHT 32 - Iklan Rokok : Belut yang Menembus Ketatnya Hukum

Ketika jam tayang televisi sudah melewati prime time, iklan rokok mulai bergentayangan di hampir semua stasiun televisi yang ada di Indonesia hingga waktu subuh. Ibarat kata, iklan rokok itu seperti hantu yang mestinya harus ditakuti oleh setiap elemen yang ada di masyarakat khususnya anak muda. 

Saat kita melihat iklan rokok tersebut, secara tidak sadar ideologi iklan tersebut akan memasuki pikiran alam bawah sadar dan ketika kita melihat terus – menerus maka disuatu waktu akan memunculkan keinginan untuk merokok produk yang diiklankan. 

Credit image : mirajnews.com

Menurut Studi UHAMKA tahun 2007 Jabodetabek menunjukkan 70 persen remaja mengaku mulai merokok karena terpengaruh iklan, 77 persen mengaku iklan menyebabkan mereka mempertahankan perilaku merokoknya dan 57 persen mengatakan iklan mendorong mereka yang berhenti merokok untuk menghisap tembakau kembali.

Pemahaman orang Indonesia mengenai hukum terkesan pragmatis, hukum yang dibuat sedemikian rupa untuk kemaslahatan orang banyak dengan mudahnya dilanggar karena membatasi kepentingan kelompok tertentu. 

Begitupula dengan Iklan rokok, walaupun sudah tayang sesuai dengan undang – undang yang berlaku tetapi terdapat celah dimana terdapat perbedaan waktu, semisal di Jakarta jam 21.30 sedangkan di Papua 19.30 yang mana anak – anak disana masih bisa menyaksikan tayangan iklan rokok. 

Bulan ramadhan menjadi bulan yang penuh berkah begitupula dengan perusahaan rokok yang membuat iklan di televisi. Karena mayoritas masyarakat Indonesia melaksanakan ibadah puasa dan diharuskan bangun lebih pagi untuk menyiapkan sahur. 

Untuk menemani makan sahur, kebanyakan dari mereka akan menyalakan televisi dan menonton program siaran edisi ramadhan yang memang ditampilkan pada jam sahur. Iklan rokokpun dikemas sedemikian rupa dan mengangkat topic – topic yang berkaitan dengan bulan ramadhan. 

Selain itu, beberapa konten waktu sahur juga disponsori oleh iklan rokok yang bagaimanapun juga space iklannya lebih banyak daripada yang iklan lainnya. Seperti dalam program acara OVJ Sahurnya Indonesia yang menggaet rokok 76 Mild sebagai salah satu sponsor disana. Sebelumnya acara ini termasuk salah satu acara waktu sahur yang memiliki rating tinggi di Indonesia. Dengan memiliki jumlah pemirsa yang banyak, apalagi dengan orang tua yang mengajak sahur bersama anaknya sambil menikmati siara televisi . Iklan rokok ataupun sponsorship konten siaran dapat memengaruhi penikmat televisi baik secara langsung maupun terselubung. 

Tapi pada akhir tahun 2012, Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan dalam pengendalian tembakau dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah nomor 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, pemerintah mengatur pengendalian tembakau dalam media iklan (Pasal 26,27) dan pengendalian promosi dan sponsor ( pasal 35,36) Dengan dibuatnya PP tersebut diharapkan space untuk iklan rokok bisa diperketat lagi. Masyarakatpun perlu bersatu dan berjuang untuk tidak merokok, salah satu upayanya yaitu dengan menolak iklan, promosi, dan sponsor rokok.

Selain dengan iklan yang ditayangkan di televisi, terdapat juga kemasan baru iklan rokok yang mana dengan cara menampilkan booth rokok dibelakang kasir di sebagian besar toko swalayan di Indonesia. 

Sebenarnya hal ini menjadi sangat memprihatinkan karena setiap golongan yang ingin melakukan transaksi akan secara sadar melihat booth rokok tersebut. Jika terlalu sering terlibat transaksi di toko swalayan dan melihat booth rokok tersebut akan menimbulkan hasrat untuk membeli rokok tersebut apalagi dengan terpampang langsung produk rokok tersebut. 

Hal ini merupkan kelanjutan dari Iklan yang ditayangkan di televisi, media cetak, maupun baliho yang terpampang disepanjang jalan. Karena iklan rokok sendiri merupakan iklan yang membawa pesan subliminal yang merupakan turunan dari teori persepsi subliminal. Persepsi subliminal adalah pemikiran bahwa seseorang dapat dipengaruhi oleh rangsangan yang tidak mereka sadari 

Pesan subliminal adalah pesan atau stimulus yang diserap oleh persepsi dan alam otak bawah sadar yang dterima melalui gammbar yang dulang – uang. Pesan atau stimulus sebelum individu dapat memprosesnya, sehingga menganggu pengolahan pesan. Pesan – pesan subliminal ini perlahan – lahan akan mempengaruhi dan mengubah pikiran sadar dari otak seseorang

Sasaran iklan rokok dengan pesan – pesan subliminal yang menyanjung dan menyesatkan itu adalah para kaum muda padahal produk yang mereka tawarkanadalah benda yang sangat berbahaya. Bayangkan jika para kaum muda Indonesia terus – menerus diterpa oleh iklan rokok yang manipulative ini tentu akan semakin banyak para pemuda dan juga kalangan dewasa yang terpengaruh oleh propaganda iklan – iklan rokok. 

Pesan dalam iklan rokok yang mempesona dan memainkan pikiran dengan menyembunyikan kenyataan bahwa rokok adalah produk dengan zat adiktif berbahaya harus dapat ditepis dari persepsi oleh siapapun yang menonton ataupun melihatnya.

Selain itu tagline peringatan yang awalnya berbentuk informative berubah menjadi kalimat represif yang lebih to the point, tidak bertele – tele dan tidak terlalu panjang untuk memberikan pemaknaan pesan yang lebih jelas terhadap bahaya dari merokok. 

Iklan rokok sendiri tidak jarang menampilkan hal-hal positif diselipkan dan disalahgunakan untuk menanamkan persepsi tentang merokok yang sebenarnya menjerumuskan. Iklan-iklan yang menyalahgunakan hal positif itu misalnya yang memakai ilustrasi solidaritas dan keakraban teman. 

Kesannya, merokok seakan-akan dapat mengakrabkan, dengan merokok seakan-akan ada norma-norma positif yang terbentuk. Hal itu jelas akan memberikan pengaruh besar dan menjerumuskan mereka yang menontonnya apalagi kalangan anak-anak dan remaja. Yang kemudian muncul adalah persepsi yang makin kuat bahwa merokok dapat memberikan hal yang positif.

Iklan-iklan rokok di dunia termasuk di Indonesia pada umumnya masih menerapkan metode yang disebut subliminal adveritising. Metode ini dilakukan dengan cara mengenalkan individu pada suatu merek rokok sedangkan individunya sendiri tak sadar kalau ia sedang dikenalkan pada rokok tersebut. Menurutnya, iklan model ini memang sangat efektif dalam mempengaruhi persepsi konsumen terutama kalangan anak-anak, remaja dan dewasa muda. 

Teori semiotika sendiri menjelaskan bahwa sebuah iklan tidak hanya bisa ditelaah secara apa yang tersurat, melainkan juga yang bisa sampai pada mitos di baliknya. Jika kita melihat iklan rokok di televisi, hampir tidak kita jumpai wujud fisik rokok diperlihatkan di sana. Bahkan anjuran untuk merokok pun tidak tersajikan. 

Sebaliknya, pada akhir iklan justru ada pesan bahwa rokok itu membahayakan kesehatan. Namun, kita tidak dapat menghindari bahwa iklan ini membawa pesan tertentu, bahkan sampai pada sebuah mitos yang ingin terus dipelihara bahwa merokok itu jantan (macho), supel, trendy, cekatan, disukai lawan jenis, dan berbagai karakter positif lainnya.

No comments:

Powered by Blogger.