MEDIA LIGHT 28 - Objektifitas Berita



Dalam buku The Element of Journalism; What Newspeople Should Know and The Public Should Expect sendiri, sebenarnya kata “obyektif” dalam ranah jurnalisme menjadi semakin sulit didefinisikan; yang diketahui dengan pasti hanyalah bahwa jurnalisme harus menghindari kata subyektif. Para kritikus dan skeptisis berpendapat bahwa kata “obyektif” dalam jurnalisme harus diganti dengan kata-kata seperti adil, netral, akurat, dan mendalam (Kovach & Rosenstiel, 2007: 77).

W. james Potter dalam bukunya Media Literacy mengajukan sebuah pertanyaan; apakah berita benar-benar merupakan sebuah refleksi dari kejadian sebenarnya? Beliau berpendapat bahwa berita bukanlah merupakan sebuah cerminan, melainkan sebuah konstruksi kejadian yang disusun oleh jurnalis. Mereka mengumpulkan data untuk memberikan gambaran kepada audiens mengenai kejadian yang diliput. Terlebih lagi, konstruksi tersebut belum tentu memiliki informasi yang lengkap, baik itu disebabkan oleh keterbatasan informasi, waktu, maupun sumber daya (Potter, 2008: 171).

Kembali ke apakah jurnalisme bisa bersifat obyektif atau tidak, Potter mengajukan pertanyaan yang sama; apa yang dimaksud dengan obyektifitas? Misalkan saja seorang wartawan meliput berita secara “obyektif”, netral dan seterusnya. Namun, pada akhirnya, keputusan untuk memilih berita mana yang mendapat headline, keputusan untuk mengirim crew atau wartawan terbaik untuk sebuah berita, semua keputusan seperti ini mau tidak mau harus dibuat oleh redaksi (Potter, 2008: 180).

Sebagai contoh, apabila redaksi memilih berita tentang seorang calon gubernur yang tak sengaja mengucapkan sesuatu yang berbau SARA untuk ditampilkan di halaman depan, apakah itu berarti ada subyektifitas dalam redaksi organisasi media tersebut untuk membuat tokoh tersebut tampil buruk? Berita tersebut jelas faktual dan benar-benar terjadi, dan peliputannya bersifat netral, namun konteks sosial berpengaruh.

Kesimpulannya, bagi para jurnalis atau wartawan, menjadi obyektif sangatlah mungkin. Akan tetapi, sangat sulit bagi jurnalisme sebagai sebuah sistem untuk menjadi obyektif sepenuhnya. Berita-berita yang dikeluarkan oleh organisasi media yang berbeda akan memiliki perbedaan sudut pandang dalam peliputannya, disebabkan oleh kepentingan maupun konteks sosial saat berita itu muncul.

No comments:

Powered by Blogger.