MEDIA LIGHT 26 - N.E.W.S.



Banyak orang berpendapat bahwa acara entertainment merupakan fiksi, sedangkan berita menunjukkan peristiwa yang benar-benar terjadi, dan mencerminkan kenyataan. Akan tetapi, berita tidak benar-benar menunjukkan peristiwa nyata.

Berita hanya memperlihatkan sebuah “cerita” yang dibuat oleh para jurnalis. Memang benar bahwa berita memberikan informasi mengenai kejadian nyata, namun media mempresentasikannya dalam bentuk informasi-informasi yang telah dikumpulkan jurnalis, dan dipengaruhi oleh keterbatasan-keterbatasan yang tidak dapat dikendalikan jurnalis.

Keterbatasan yang pertama adalah deadline. Seorang jurnalis tidak dapat mengumpulkan informasi cukup mengenai suatu kejadian apabila sebuah peristiwa terjadi sebelum deadline dan masih berlanjut melebihi deadline.

Akhirnya, jurnalis terpaksa memberikan berita yang belum lengkap, meskipun informasi yang belum didapatkan mungkin bersifat krusial dan mempengaruhi berita tersebut secara menyeluruh.

Bentuk-bentuk media seperti radio, televisi, dan internet tidak terlalu dibatasi oleh deadline, karena jurnalis dapat memperbarui berita dalam media ini, namun media seperti koran memiliki deadline yang sangat membatasi.

Misalnya, sebuah koran harian memiliki deadline jam 11 malam setiap harinya. Apabila terdapat peristiwa pada jam 2 pagi, peristiwa itu tidak akan dimuat dalam koran harian pagi hari itu. Editor dapat menentukan apabila koran akan memuat berita itu untuk hari esoknya, namun berita itu akan terkesan telat.

Keterbatasan selanjutnya adalah resource limitations, atau keterbatasan sumber daya. Sebuah perusahaan media tidak memiliki sumber daya yang dapat meliput seluruh kejadian dalam suatu hari yang telah ditentukan.

Oleh karena itu, mereka harus menentukan peristiwa yang mana yang akan diliput. Ini merupakan masalah bagi stasiun televisi lokal dulunya, karena mereka harus mengirim sekumpulan crew dan peralatan broadcasting ke suatu lokasi, namun dengan kemajuan teknologi, masalah tersebut telah berkurang.

E. Slater (2004) mengatakan bahwa tiap reporter membawa kamera video dengan kualitas yang setara dengan kamera broadcast, dan banyak jurnalis membawa perekam suara, memiliki alat komunikasi, dan sebuah wireless modem. Namun masih ada keterbatasan di bidang lain, seperti batas jumlah berita yang dapat dimuat suatu koran.

Ada pula beberapa organisasi media yang justru menerapkan sumber daya yang sudah terbatas secara inefisien. Misalnya, tiap 4 tahun, dua partai politik memilih kandidat mereka untuk menjadi presiden, dan perusahaan-perusahaan media mengirimkan sekitar 16.000 jurnalis.

Padahal, orang yang dinominasi biasanya sudah diketahui berbulan-bulan sebelumnya, sehingga event tersebut tidak terlalu berharga sebagai sebuah berita. CNN dan radio berita memiliki banyak sumber daya, namun berita yang mereka liput sangat sedikit.

CNN memilih untuk hanya memberitakan yang penting, dan alasannya adalah karena biaya yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan dengan memberitakan banyak kejadian, namun harus meng-update berita tersebut setiap saat.

Keterbatasan yang terakhir adalah geographical focus, atau fokus geografis. Di United States, dengan beberapa pengecualian, setiap koran memiliki area tempat mereka bekerja, dan hanya akan meliput berita yang ada di daerah tersebut.

Namun, ada pula bentuk lain dari keterbatasan ini; ada sebuah pendapat bahwa berita di beberapa area tertentu dianggap lebih penting untuk dicakup dalam berita. Misalnya, Larson (1983) meneliti mengenai jumlah berita internasional dalam televisi, dan menemukan bahwa berita mengenai peristiwa di negara dunia ketiga (negara berkembang) jauh lebih sedikit dibandingkan berita di negara maju, dan berita dunia ketiga yang diliput kebanyakan berupa bencana atau krisis.

W. J. Potter (1987b) juga menemukan pola yang sama di koran. Bahkan dalam United States sendiri, peristiwa di bagian utara lebih sering dicakup dalam jaringan berita nasional.

(dikutip dari buku Media Literacy karya W. J. Potter)

No comments:

Powered by Blogger.