MEDIA LIGHT 25 - Film Korea

Korea Utara dan Korea Selatan berbeda dalam sejarah dan sifat perfilman mereka. Film dari Korea Selatan mendapat lebih banyak perhatian internasional, sedangkan film Korea Utara lebih memfokuskan pada tema-tema komunisme.

Pada tahun 1897, gambar bergerak mulai diperkenalkan di Korea, dengan penayangan pertama di daerah Jingogae, Bukchon. Dan pada tahun 1903, bioskop pertama dibuka di Korea bernama Dongdaemun Motion Picture Studio, dengan menayangkan film-film impor dari Eropa dan Amerika. Film paling pertama yang dibuat oleh Korea sendiri masih kurang jelas, dan untuk tahun-tahun berikutnya, film di Korea didominasi oleh drama dan film dokumenter.

Credit Image Mozaic Matahari Mall
Tahun 1926-1935 merupakan puncak dari film bisu Korea, dan mulai mengalami pengurangan dalam jumlah film karena adanya penyensoran dan pembatasan dari pihak yang berwenang. Para pembuat film pun pindah ke Shanghai karena perfilman lebih didukung di sana.

Kemudian, tahun 1935-1945 merupakan awal dari kemunculan beberapa film dengan suara. Meskipun kualitas suaranya tergolong buruk, para masyarakat Korea masih menanggapinya dengan respon positif. Film bersuara Korea yang pertama berjudul Chunhyang-jeon, disutradarai oleh Lee Myeong-woo pada tahun 1935. Pada era ini, studio film Korea difasilitasi oleh Jepang, dan penyensoran lebih ketat terhadap film bersuara dibandingkan film bisu. 

Mengikuti era-era tersebut, perang Korea menyebabkan perkembangan dalam industri perfilman Korea terbagi menjadi dua, yaitu Utara dan Selatan. Pada era perang tersebut, masing-masing bagian Korea memproduksi film yang bersifat propagandis dan pembelaan bagian negara mereka.

Karena sifatnya yang terisolir, sejarah dan jumlah film yang diproduksi di Korea Utara tidak diketahui secara pasti. Sedangkan Korea Selatan memasuki zaman emas bagi industri perfilmannya pada tahun 1953-1973, berawal dari presiden Korea Selatan Syngman Rhee yang memberikan kebijakan untuk mengembangkan industri perfilman Korea Selatan dengan cara tidak mengenakan pajak pada mereka. 

Pada tahun 1960-1961, penyensoran pada film tidak seketat sebelumnya, namun di tahun 1962, penyensoran kembali diperketat dengan adanya presiden baru Park Chung-hee. Meskipun kekuasaan pemerintah atas industri perfilman menjadi lebih besar dari sebelumnya, kesuksesan dari era pemerintahan Syngman Rhee telah menghasilkan minat terhadap film Korea yang berlangsung dari tahun 1960 dan seterusnya.

Di bawah pemerintahan Park Chung-hee, penyensoran yang sangat ketat diberlakukan pada industri perfilman, karena film dianggap dapat “memunculkan kebudayaan baru yang tak diinginkan, kritikan-kritikan terhadap pemerintahan, serta pesan-pesan pro-komunis”. Pada periode ini, pembuat film di-blacklist atau bahkan dimasukkan dalam penjara.


Mengikuti pembunuhan Park Chung-hee di tahun 1979, politik Korea Selatan mengalami gangguan, yang menyebabkan penegakan sensor dalam perfilman absen. Di masa ini, meskipun pengunjung sinema Korea sedikit, mulai muncul beberapa film yang dulunya dilarang oleh kebijakan penyensoran film. 

Dan di tahun 1988, Roh Tae-woo sebagai presiden memulai usahanya untuk menghapuskan sensor pada industri film secara perlahan, dan para sutradara pun cepat untuk mulai menjelajahi tema-tema film yang semula dilarang. Dari akhir tahun 1990, industri perfilman Korea mendapatkan pengakuan dalam skala internasional, dan bahkan memiliki beberapa film yang melebihi film box office Hollywood seperti Titanic dan Star Wars yang ditayangkan di bioskop Korea Selatan. 

Di tahun 2002 dan seterusnya, beberapa kali film Korea Selatan mendapatkan perhatian dalam Venice Film Festival, Berlin Film Festival, dan Cannes Film Festival, bahkan mendapatkan peringkat pertama pada tahun 2012 dengan film Pieta karya Kim Ki-duk, di Venice Film Festival. 

No comments:

Powered by Blogger.