LIGHTVIEW 4 - All Hell Breaks Loose



Inferno (2016) merupakan film adaptasi dari novel karangan Dan Brown—pengarang novel best seller seperti The Da Vinci Code dan Angels & Demons—dengan judul yang sama yang terbit pada tahun 2013, dan merupakan bagian dari series buku Robert Langdon, bersama The Da Vinci Code, Angels & Demons, dan The Lost Symbol. Sama halnya dengan cerita Robert Langdon lainnya, Inferno dipenuhi dengan aksi menegangkan yang dikejar sebuah batas waktu, diselingi dengan berbagai pelajaran mengenai sejarah Kristianitas serta pengaruhnya pada zaman.

Alur cerita Inferno melibatkan Robert Langdon sebagai tokoh utama mendapati dirinya bangun di sebuah rumah sakit di Italia, kehilangan ingatan sementara, dan membawa sebuah gambar lukisan Map of Hell karya Botticelli, didasarkan pada puisi Inferno karya Dante. Bersama Sienna Brooks, dokter yang merawatnya, Langdon harus menjelajahi sebagian Eropa untuk mencegah rencana seorang ilmuwan yang ingin melepaskan sebuah wabah ke dunia, yang dapat menghapus lebih dari setengah populasi dunia.

Seperti cerita Dan Brown yang lain, Inferno membahas salah satu masalah sosial yang masih bersifat kontroversial, lebih tepatnya mengenai transhumanisme. Dalam penjelasannya yang sekilas terlihat obyektif, Dan Brown selalu menyiratkan pemikirannya mengenai tema kontroversial tersebut dalam bentuk pikiran tokoh-tokohnya. Ceritanya selalu mengaitkan tema-tema yang masih didiskusikan pada hari ini dengan seniman dan sejarah yang berpengaruh dan terasa relevan dengan topiknya.

Namun, meskipun Dan Brown merupakan seorang salah satu penulis best-seller, namanya sebenarnya dikenal di kalangan para kritik karena selalu mencantumkan data yang kurang akurat dalam novelnya. Seiring dengan setiap novel baru yang ia terbitkan, kesalahan-kesalahan dalam penjelasannya semakin berkurang pula; namun, bagian novel-novelnya yang tidak akurat dan tetap terkait dengan tema yang populer dengan para conspiracy theorist justru terkesan hanya mempopulerkan pandangannya mengenai suatu konspirasi dengan informasi yang tidak tepat.

Dan sayangnya, seperti halnya dengan banyak film yang mengadaptasi sebuah novel, Inferno menderita dengan masalah yang sama; banyaknya konten dari buku yang gagal masuk ke dalam layar, dan kebiasaan untuk “meng-hollywood-ifikasi” film sehingga terkesan menjadi hanya sebuah film aksi biasa. Khususnya dari semua film yang mengadaptasi novel Dan Brown—The Da Vinci Code, Angels & Demons, dan Inferno—semuanya dianggap sebagai adaptasi yang buruk. The Da Vinci Code sangat patuh terhadap material sumbernya—terlalu patuh, sampai film tersebut berdurasi dua jam dan lima puluh menit. Angels & Demons sangat berbeda dengan sumbernya. Bagaimana dengan Inferno?

Inferno melibatkan Robert Langdon, yang bangun tanpa ingatan di sebuah rumah sakit di Italia, dan diurus oleh dokternya, Sienna Brooks. Tanpa mengetahui apa yang terjadi, ia diserang oleh seorang agen organisasi Consortium saat di rumah sakit tersebut. Setelah mereka aman, Robert mengetahui bahwa apa yang mereka cari adalah sebuah tabung dengan lambang biohazard yang dijahitkan ke jasnya, dan justru tidak mengandung konten kimia yang mengerikan, melainkan sebuah gambar lukisan Map of Hell karya Botticelli yang telah dimodifikasi sebagai petunjuk yang mengarah ke lokasi di mana sebuah kantong berisi spesimen wabah yang dibuat oleh ilmuwan Zobrist untuk “menghindari Inferno”. Robert dan Sienna melarikan diri melalui berbagai daerah di Eropa, mencari berbagai petunjuk untuk mengetahui lokasi, dan mengelak dari pencarian Consortium.

Ambisi Zobrist didasari oleh puisi Inferno karya Dante, di mana neraka dipenuhi oleh orang-orang yang berdesak-desakan. Ia lalu menggambarkan akhir dunia bukanlah oleh bencana-bencana alam yang mengerikan, melainkan datang secara perlahan-lahan dengan adanya overpopulasi penduduk di dunia, ditunjukkan dengan data perkembangan jumlah kelahiran yang berkembang secara eksponensial, yang dimiliki WHO. Akhirnya, ia membuat sebuah wabah yang dapat mengatasi masalah overpopulasi tersebut, dan akan dilepaskan pada waktu yang ia rencanakan.

Meskipun dengan premis cerita yang sama, film Inferno sangat mendangkalkan konten novelnya. Dari mengubah karakter yang memiliki sejarah dan alasan yang mendalam, memfokuskan waktu ke adegan aksi daripada unsur sejarah dan moral, sampai-sampai mengubah endingnya, Inferno yang ditampilkan di layar lebar benar-benar bukan representatif atas karya yang sebenarnya. Bahkan, sebagai film “aksi” pun, Inferno tidak bisa dikatakan sebagai film yang baik. Ron Howard tidak membuat film yang patuh dengan sumbernya, dan perbedaan yang ia buat juga tidak terlalu relevan, menghasilkan sebuah film yang hanya mengambang.

Dari segi lain, karya musik original dalam Inferno juga tidak terlalu menonjol. Mungkin hal lain yang dapat dipuji adalah performance para aktor, dan sinematografi yang digunakan, dengan berbagai shot yang menggambarkan kota-kota.

Lalu, apakah Inferno dapat menjadi film yang bagus seandainya Ron Howard memutuskan untuk patuh sepenuhnya terhadap sumber? Belum tentu pula. Novel series Robert Langdon lebih mengajak pembaca untuk ikut berpikir, sambil dihidangkan dengan trik-trik kepenulisan yang mempermainkan benak mereka. Mungkin masih perlu waktu sampai munculnya sebuah film novel Dan Brown yang benar-benar menarik penonton, entah dengan cara apa. Inferno mendapatkan rating 6.4/10 di IMDb.

No comments:

Powered by Blogger.