MEDIA LIGHT 23 - Antara Engeline dan Jessica Kumala Wongso

Pada tanggal 10 Juni 2015, anak perempuan bernama Engeline ditemukan meninggal dalam kondisi penuh luka terkubur di halaman belakang rumahnya. Dokter forensik memperkirakan ia dibunuh sekitar 3 minggu sebelumnya. 

Dua terdakwa pelaku pembunuhan, yakni terdakwa utama Margriet Megawe (60), ibu angkatnya sudah dituntut seumur hidup. Sedangkan Agus Tay Hamda Tay (26), pekerja di rumah Margriet dituntut 12 tahun penjara karena disebut membantu Margriet mengubur dan menyembunyikan aksi ini.

Pada waktu menghilangnya Engeline, dunia maya sangat riuh oleh informasi yang dibuat oleh keluarga Margriet pada tanggal 16 Mei 2015. Sebuah Facebook Page dibuat dengan nama "Find Angeline: Bali's Missing Child". Di halaman ini banyak poster pengumuman pencarian Engeline dan doa bersama, bekerja sama dengan lembaga Safe Childhood. 

Keluarga banyak menyebar foto-foto Engeline yang sedang tersenyum, ceria, bermain, dan lainnya. Sebuah gambaran bahagia tentang Engeline dan keluarganya. Sampai saat inipun Facebook Fanspagenya masih ada dan bisa dikunjungi. 

Disamping itu media terus melaporkan kasus yang diklaim penculikan oleh keluarga Margriet. Sampai beberapa media menulis ada dugaan diculik penjual gas, perempuan, dan lainnya. Beberapa pejabat juga datang ke Bali karena didesak sejumlah lembaga perlindungan anak. 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise, datang ke rumah korban namun tak berhasil bertemu penghuni. Yohana lalu mendatangi sekolahnya. Yohana minta kepolisian memeriksa rumah korban.

Lamanya pengungkapan kasus ini membuat Kepala Sekolah SD 12 Sanur, sekolah Engeline dan para guru berinisiatif mencari balian (semacam dukun) untuk diteropong secara batin dan tak kasat mata. Istilahnya dalam bahasa Bali, meluasin. 

Hasilnya, Angeline disebut masih ada di sekitar rumah. Ketut Ruta, Kepala Sekolah Engeline dan beberapa guru mulai menyebut keanehan siswanya. Misalnya sering terlambat masuk sekolah, rambut kusut, bajunya bau tahi ayam, dan pendiam.

Sekolah mengaku kesulitan berkomunikasi dengan ibu angkatnya karena jarang terlihat. Sekolah juga sudah memutuskan Angeline naik kelas 3 walau tak ikut ulangan akhir karena hilang. Namun dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian yang cukup baik serta perilakunya di sekolah. 

Selama penyelidikan dan pemberkasan kedua tersangka, gelombang simpati pada kasus Engeline terus muncul. Tak sedikit pejabat mengirim karangan bunga di depan rumah korban dengan nama atau partai politiknya. Seruan penghentian kekerasan pada anak juga terus dibuat.

Forum Anak Daerah (FAD) Bali misalnya menyampaikan tiga butir pertanyaan dan tuntutan agar perlindungan tak hanya di atas kertas dan seremonial belaka. Mereka menggugat bagaimana implementasi peraturan seperti UU, Inpres, dan perda. 

Wali kota dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar pun membentuk Pokja Perlindungan Anak di tingkat desa dan sekolah-sekolah. Pengurus desa diminta aktif melaporkan situasi anak-anak di sekitarnya ke P2TP2A untuk ditindaklanjuti.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Denpasar juga membuat diskusi dan refleksi dampak pemberitaan kasus Engeline. Luh Gede Yastini, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali, meminta media tak menuliskan detail kronologi kekerasan yang terjadi karena sangat berdampak pada anak-anak dan orang tua yang mengikuti kasus ini. Karena berpotensi menimbulkan ketakutan dan trauma, selayaknya media juga harus melindungi korban dan keluarganya dari trauma.

Setahun kemudian pada tahun 2016 kita disambut dengan pemberitan oleh media massa mengenai kasus kopi sianida yang merenggut nyawa Wayan Mirna Salihin. Kasus ini menjadi topic yang hangat untuk diperdebatkan karena adanya kejanggalan antara rutinitas meminum kopi dan kematian mendadak yang tidak wajar. 

Pihak berwajib juga tak mau melewatkan kasus ini dengan melakukan penyelidikan lebih dalam, mengumpulkan berbagai keterangan mulai dari teman ngopi Mirna, pihak cafe Oliver, mengecek rekaman CCTV, serta melakukan rekonstruksi kejadian.

Media di Indonesiapun meliput berita ini secara besar – besaran bahkan menjadi headline pemberitaan selama beberapa hari. Menurut UU No.40/1999, media sebagai pers berfungsi sebagai wadah informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. 

Credit Image : Intisari

Pers juga berhak untuk mencari, memperoleh, dan menyampaikan gagasan dan informasi. Namun, pada pemberitan kasus kopi sianida ini banyak wartawan dari berbagai media melakukan pelanggaran etika pers.

Penyampian informasi yang tidak akurat tanpa pengecekan lebih lanjut merupakan salah satu pelanggaran etika pers. Media banyak membuat isu – isu tak penting dan memuat pemberitaan yang dirasa kurang penting untuk disampaikan, dimulai motif Jessica melakukan pembunuhan karna ingin merebut suami Mirna, mengatakan Jessica psikopat tanpa ada klarifikiasi dari pihak terkait, sampai pemberitan mereka lesbian. Pemberitaan ini mulai menimbulkan opini public di masyarakat dan membuat Jessica dihujat tanpa ada bukti kebenaranya.

Terkait dengan pencarian informasi, wartawan terlalu gencar dan terkesan menarik kesimpulan sendiri. Disaat kasus kopi sianida ini baru mencuat , media sudah menyudutkan Jessica dan menetapkan sebagai tersangka. 

Padahal pada saat itu Jessica masih berstatus sebagai saksi dan belum ada klarifikasi dari pihak berwajib, penetapnnya baru dilakukan pada tanggal 29 Januari 2016. Namun wartawan mampu menggiring publik menetapkan Jessica sebagai tersangka layaknya hakim, namun ini tanpa sidang dan penyelidikan mendalam.

Banyaknya pemberitaan membuat publik mulai tertarik dan menyorot kehidupan Jessica. Melihat tingginya animo publik mengenai kasus ini, media semakin gencar mencari info sampai ketahap memasuki kehidupan pribadi Jessica. 

Banyak wartawan yang setia berdiri di halaman rumah Jessica agar mendapatkan wawancara eksklusif. Kehidupan pribadinya mulai diusik publik, bahkan ia dikucilkan oleh lingkungannya yang mengharuskan Jessica dan keluarga menetap sementara di hotel untuk menghindari semakin meluasnya pemberitaan mengenai dirinya. 

Hal ini jelas sudah melanggar etika pers, dimana menganggu hak privasi seseorang sehingga tidak ada ruang kebebasan yang diterima Jessica dan dampak dari pemberitaan yang belum sesuai dengan etika pers.

Sebagai wadah infromasi publik, seharusnya media lebih memperhatikan kode etik pers dan jurnalis agar menjadi media yang menyampaikan pemberitaan yang akurat dan terpercaya. Media saat ini cenderung melanggar kode etik demi kepentingan komersil semata, mengutamakan kecepatan berita tanpa pengecekan lebih lanjut. 

Media yang seharusnya lebih bersikap netral dalam menghadapi kasus malah meyudutkan pihak tertentu. Media yang mana diberi kebebasan untuk menyampaikan ide dan gagasannya namun tidak dengan mengiring publik membentuk opini yang disesuaikan dengan pemikiran wartawan semata.

Sebegitu boomingnya kasus ini, sampai tiga stasiun yaitu televisi, TvOne, Kompas TV, dan iNewsTV yang menayangkannya. Bisa dibilang pertelevisian di Indonesia kali ini sangat heboh saat menayangkan sidang criminal dan mendapatkan sorotan serta antusiasme sedemikian rupa. 

Dengan dalih Breaking News kebijakan program yang biasa satu atau dua jam diterabas. Penayangan live berkesinambungan hingga berjam-jam, bahkan sampai 10 atau 12 jam. Setiap minggunya, sidang Kopi Bersianida disuguhkan ke masyarakat. 

Berbagai kritikan dan cemooh persidangan panjang ini sempat dibahas dalam diskusi bertajuk Persidangan Kopi Bersianida, Jurnalisme TV dan Frekuensi Publik" yang digagas Ikatan Jurnalisme Televisi Indonesia (IJTI) dan diselenggarakan di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta pada tanggal 31 Agustus 2016. 

Pada diskusi ini wakil dari Kompas TV, Rosiana Silalahi urung datang. Pihak yang jadir adalah Pemred Metro TV Putra Nababan, GM News Gathering TvOne Ecep S Yasa dan Direktur Pemberitaan MNC Group Arya M. Sinulingga. Loyalitas masyarakat memantengi jalannya persidangan selama berjam-jam memang tidak terbantahkan. Kenaikan share tv dirasakan positif oleh Kompas TV, tvOne dan iNewsTV. 

Pada sidang ke-11 yang dilakukan 10 Agustus lalu, share Kompas TV melejit hingga 5,64 persen. Begitupun juga dengan TvOne 5,68 persen dan INews TV 3,65 persen. Tiga stasiun TV ini meninggalkan Metro TV yang tidak menayangkan siaran secara live. Metro hanya kebagian 1,62 persen. 

Padahal jika merujuk rerata share harian pada pekan itu - tanpa melibatkan hari dimana sidang di gelar, Kompas TV hanya mendapat 2,06 persen, tvOne 3,43 persen dan iNewsTV 1,72 persen. Data ini sebenarnya sejalan dengan pengakuan Dirut Pemberitaan MNC Grup, Arya M Sinulingga. Dia mengungkapkan total share dari TV berita seperti Kompas TV, iNews TV, tvOne dan Metro TV dalam satu hari bisa naik hingga 15 persen. 

Angka ini tentu melebih batas share TV berita yang hanya 9 persen—kalah jauh ketimbang saluran televisi hiburan. Dari ini bisa disimpulkan sidang Jessica membawa kenaikan share. 

Kedua kasus tersebut sebenarnya sangat menguntungkan pihak media sendiri karena kehebohan yang terjadi di masyarakat akan antusias untuk mengikuti perkembangan kasus – kasus tersebut. 

Dalam kedua kasus tersebut mengambil sudut pandang yang berbeda yaitu kepada korban dalam kasus Engeline dan tersangka dalam kasus kopi sianida. 

Tapi bisa dibilang jika kasus kopi sianida ini dapat bertahan sangat lama dalam pemberitaan media dan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. 

Padahal jika dalam psikologi, masyarakat akan cenderung berpihak kepada korban karena perasaan akan cenderung mengarah kepada orang yang terkena musibah tersebut. 

Dalam kasus Engeline sendiri public menyoroti bagaimana penegakan hukum dan tingkat simpatis yang tinggi karena berkaitan dengan HAM yang mana telah dilanggar oleh ibu angkat Engeline. 

Selain itu karena anak – anak masihlah dalam tahap perlindungan dan tidak pantas untuk disiksa. Media sendiri mengangkat permasalahan korban ini dengan menarik simpati masyarakat dan cenderung mempertanyakan penegakan hukum yang ada agar dikemudian hari tidak akan terjadi lagi. 

Persidangan juga ditampilkan dalam media di Indonesia yang mana tersangka dihujat oleh sebagian besar masyarakat yang berada pada sidang tersebut. Dan hal tersebut seperti membawa perubahan dalam implementasi undang – undang, perda, dan lain sebagainya karena tuntutan masyarakat akan pelanggaran HAM.

Berbeda dengan kasus kopi sianida, bagaimana media cenderung siding pengadilan menjadi topic utama bahasannya. Hal ini sebenarnya masihlah ambigu jika mengingat ini adalah kasus pembunuhan warga sipil yang biasa dibandingkan dengan kasus lainnya. 

Walaupun ada desas – desus bahwa Jessica memiliki hubungan keluarga dengan orang – orang yang terlibat dalam kasus bank Century. Tapi bukanlah hal itu yang harus dipertanyakan, tetapi medialah yang harusnya dipertanyakan. 

Walaupun media menghamba terhadap rating yang ada bukankah hal itu dapat mengurangi elektabilitas mereka dalam menyampaikan informasi kedepannya. Di lain sisi masyarakat sudah jengah terhadap pemberitaan yang ada di media, tetapi media masihlah tak ada niat untuk melakukan perubahan. 

Bukanlah hal yang tidak mungkin bahwa citizen journalism mendapat tempat di hati masyarakat dibandingkan dengan media yang ada karena lebih percaya terhadap realism yang diperlihatkan daripada keobjketifitasan media. 

 Dan hal itu akan menjadi masalah bagi media dan kebenaran informasi yang tersebar di Internet karena tiap orang memandang suatu hal dengan berbeda dan malah mudah diarahkan kepada kepalsuan berita dan menyebabkan tidak adanya kepercayaan terhadap informasi yang beredar.

No comments:

Powered by Blogger.