MEDIA LIGHT 20 - Kebebasan Tanpa Kendali, Informasi Tanpa Klarifikasi


Untuk memulai, definisi media baru sendiri sebenarnya masih buram. Daripada diklasifikasikan sebagai sekedar bentuk media lain seperti televisi, radio, dan seterusnya, media baru lebih merupakan sebuah "dunia" baru--dunia maya. Sifatnya yang mencakup berbagai jenis media sekaligus (multimedia), serta tidak terbatas dalam jangkauannya, membuatnya berbeda dari bentuk media lain dan, dalam beberapa dekade sejak ditemukannya, telah menimbulkan kesulitan bagi konstitusi untuk terus update dengannya (van Dijk, 1999: 137).

"Media" ini diklasifikasikan sebagai sebuah media karena sifatnya yang cenderung berorientasi komunikasi dan informasi--namun, pada kenyataannya, media baru telah merevolusionerkan berbagai aspek sosial. Berbagai bidang, baik itu ekonomi, politik, pendidikan dan seterusnya, mulai menerapkan internet dalam aktivitas mereka. Media baru yang dapat menyesuaikan diri dan digunakan oleh berbagai aspek ini telah menyebabkan semacam “peleburan” dalam aspek-aspek sosial.

Contohnya, dalam bidang komunikasi itu sendiri. Media baru merupakan bentuk media yang memburamkan batas antara komunikasi massa dengan komunikasi interpersonal. Ia menganut model yang tidak dapat ditentukan secara pasti. Misalkan, komunikasi biasa dapat dijelaskan dengan model Shannon & Weaver, di mana pesan datang dari komunikator, melewati barrier dan noise, dan sampai ke komunikan, atau seperti model Berlo, yang memperhitungkan dapat dipercaya atau tidaknya komunikator dan pengaruhnya terhadap kemudahan penerimaan pesan oleh komunikan (Mulyana, 2008: 149).

Media baru terkadang tidak menganut model-model seperti yang telah diutarakan tersebut. Pengguna dapat saja mempercayai sebuah informasi yang asalnya tidak diketahui secara pasti, dan akhirnya terjebak dalam hoax. Media baru tidak memiliki satu bentuk interaksi yang mutlak berlaku untuk semua aktivitasnya. Dan media baru dalam bidang komunikasi ini hanyalah salah satu dari banyaknya bidang yang dirombak besar-besaran oleh kemunculannya.



Media Online: Dapat Dipercaya?

Persepsi umum terhadap media baru adalah bahwa para "kontributor" datanya merupakan ahli yang memiliki pengalaman dalam bidang mereka. Ini merupakan kesalahan pertama dalam penggunaan media baru secara membabi-buta. Kenyataannya, media online hanya melakukan tidak lebih dari sebuah "pembiasan" informasi.

Dengan kata lain, para "kontributor" ini belum tentu dapat disebut sebuah kontributor, melainkan hanya sebuah distributor. Misalkan pada situs-situs fun fact yang tak terhitung jumlahnya di internet; mereka hanya melihat kejadian-kejadian yang dianggap aneh dan jarang diketahui khalayak umum, kemudian mengemas informasi tersebut dalam sebuah gambar yang menarik perhatian, dan disebarkan dalam situs mereka.

Bahkan, besar kemungkinannya mereka hanya melakukan Google search mengenai "hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmuwan" dan menempelkan label "mistis" pada informasi mereka. Apakah informasi tersebut akurat? Sebelum dilakukan penelitian lebih lanjut, belum tentu. Apakah informasi tersebut menarik perhatian? Kemungkinan besar, ya.

Khalayak terus-menerus melahap informasi "bekas" ini, dan anehnya, secara tidak disadari telah muncul pandangan bahwa apa yang ada di internet pasti benar--entah itu karena mereka percaya sumbernya, atau karena Google telah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan rumah mereka.

Sayangnya, sedikit sekali menyadari hal ini. Terutama di Indonesia, media konvensional sudah mulai menganut media online sebagai sumber data yang dianggap "akurat". Satu persatu muncul acara-acara di televisi yang mengangkat fun facts tersebut menjadi bahan pembicaraannya. Apakah acara-acara seperti ini dikategorikan sebagai acara pendidikan, ataukah entertainment?


Meskipun tujuan awalnya adalah menyampaikan fakta yang sedikit berpengaruh langsung terhadap kehidupan khalayak, belum tentu para audiens mempersepsinya secara demikian pula. Andaikan mereka menganggap acara tersebut sebagai "mendidik", akan muncul standar baru dalam jurnalisme pendidikan di Indonesia--standar yang memerlukan sumber dalam media online untuk dapat dipercaya.

(berlanjut di MEDIA LIGHT 21)

No comments:

Powered by Blogger.