MEDIA LIGHT 13 - Cyber Pornografi dan Gangguan Perilaku Mental

Pornografi dapat diidentifikasi sebagai representasi eksplisit ( gambar, tulisan, lukisan, dan foto) dari aktivitas seksual atau hal yang tidak senonoh, mesum atau cabul yang dimaksudkan untuk dikomunikasikan ke public. Mesum, cabul atau tidak senonoh dipahami sebagai sesuatu yang melukai dengan sengaja rasa malu atau rasa susila dengan membangkitkan representasi seksualitas. Bisa saja penilaian ini dituduh bersifat subjektif karena mengacu pada situasi mental atau afektif seseorang. 

Akan tetapi, ukuran tidak hanya berhenti pada subjektivitas semacam itu, karya yang “mesum,cabul dan tidak senonoh” itu juga didasarkan atas penilaian setempat atau oleh setiap orang yang sehat akal. Jika sudah menyangkut masalah representative mental (kepercayaan, impian dan ingatan), atau bila terkait objek fisik (pakaian dalam dan perlengkapan objek seksual yang terungkap dalam budaya atau masyarakat tertentu, isi representative public ini bagaimanapun tidak bisa dikatakan relative. Ada acuan pada konsepsi umum tentang apresiasi suatu karya yang bisa dipertanggung jawabkan, dan konsepsi moral ( menolak dehumanisasi dan pengobjekan )



Credit Image : Telegraph UK
Ada tiga alasan utama yang dikemukakan untuk menolak pornografi, ialah pertama perlindungan terhadap orang muda atau anak – anak; Kedua, mencegah perendahan martabat perempuan; ketiga, mencegah sifat subversifnya yang cenderung menghancurkan tatanan nilai seksual keluarga dan masyarakat. 

Pornografi dikhawatirkan akan mengganggu anak – anak atau remaja sehingga mengalami gangguan psikis dan kekacauan dalam perilaku yang mirip apabila mereka mengalami pelecehan seksual. Pornografi cenderung akan dipakai oleh para remaja sebagai pegangan perilaku seksual. 

Padahal dalam program tersebut sama sekali tidak ada ungkapan perasaan, mengabaikan afeksi, mereduksi pasangan perempuan melalui sebagai objek pemuasan diri. Pornografi cenderung membangkitkan suasana kekerasan terhadap perempuan. 

Menurut Etika minimal, pornografi melukai pihak lain. Etika minimal terdiri dari 3 pilar yakni : kebebasan memilih akan apa yang baik bagi dirinya dalam hal seksualitas, prinsip menghindari yang merugikan pihak lain, kewajiban setiap orang untuk tidak menjadikan orang lain sebagai sarana.

Dalam pornografi, tercipta semacam hubungan antara subjek dengan pribadi imajiner, gambar orang dalam kertas atau layar. Dengan demikian, orang dicabut dari realitas ke fantasi, dari altruism ke egosentrisme. 

Akibatnya, yang mau ditonjolkan hanya hasrat sesual, cinta dikalahkan oleh kepuasan dorongan nafsu seks. Kecenderungan media untuk menampilkan yang sensasional atau spektakuler mempengaruhi insan media sehingga mudah tergoda mempresentasikan pornografi karena paling mudah memancing kehebohan. 

Dari sini tampak bahwa perdebatan tentang pornografi bukan hanya masalah konseptual, tetapi menyangkut masalah pengambilan sikap moral dan politik. Permasalahan pornografi menjadi politik karena pertama, masalah kebebasan berekspresi, terutama bila mengandung nilai seni. 

Kedua, bagaimana menghadapi hak akan infomasi. Dan ketiga, bagaimana menjamin hak untuk memenuhi pilihan pribadi, bila pilihan ini tidak melukai orang lain, bahkan bila nilai seni dan pendidikannya dianggap meragukan.

Sikap remaja mengenai permasalahan yang bernuansa seks cukup antusias dan bahkan ada yang kuat sekali, yang tentunya ada untuk mendapatkan berbagai bentuk kepuasan akan informasi seks. Isi dari pornografi tersebut akan memberikan contoh dan mendorong meningkatnya keinginan remaja untuk melakukan perilaku seks bebas. 

Orang yang merujuk pada jenis pornografi ekstrem, individu menjadi tertarik untuk melakukan hal yang sama dalam model pornografi tersebut, dan saat mereka membicarakan tentang minat seksual, individu mempraktekkan dalam kehidupan nyata.

Dengan menonton pornografi, kegiatan seperti seks didepan orang lain, kekerasan seks, dan seks yang tidak aman, seseorang secara tidak langsung telah menjalankan pelatihan yang beresiko pada diri sendiri dengan merasa lebih nyaman dengan ide tersebut dan untuk telibat dalam perilaku tersebut. 

Bila individu menunjukkan kognisi yang baik, afeksi yang positif, dan suatu bentuk konasi yang positif pula maka individu tersebut akan memberikan suatu sikap yang negatif terhadap pornografi. Sikap negatif ini ini diwujudkan menjauhi, menghindari, membenci, dan tidak menyukai pornografi. 

Sedangkan bila individu menunjukkan kognisi yang buruk, afeksi yang negatif, dan suatu bentuk konasi yang jelek pula maka individu akan memberikan sikap yang positif terhadap pornografi. Sikap positif diwujudkan dengan mendekati, menyenangi pornografi

No comments:

Powered by Blogger.