MEDIA LIGHT 9 - Media in Indonesia

Setelah kita membahas beberapa masalah yang mendominasi dunia media, sekarang kita perlu mengetahui; seberapa banyak dari masalah media tersebut yang sedang dialami Indonesia saat ini? Jawabannya adalah semuanya. Memang benar bahwa seluruh dunia mengalami masalah-masalah tersebut, namun Indonesia termasuk negara yang mengalami paling banyak dampak buruk dari media.

Mulai dari iklan yang tidak teratur jumlahnya, sampai kurangnya pengendalian terhadap konten media yang dikonsumsi anak-anak, masih belum ada penanganan masalah media yang konkret dari pihak manapun, baik itu pihak pengguna maupun pihak pemerintahan.

Masalah yang paling dapat dilihat adalah banyaknya jumlah iklan di pertelevisian Indonesia. Apabila iklan dikeluarkan, setiap acara di televisi tidak berdurasi sangat lama. Televisi Indonesia benar-benar dipenuhi oleh iklan, baik iklan produk maupun iklan propaganda politik. Dan tidak hanya jumlahnya yang tak terkendalikan; kontennya pun terkadang tidak sesuai untuk semua umur.

Kekerasan juga merupakan masalah yang merajalela. Contoh sinetron yang menampilkan banyak kekerasan saat ini adalah sebuah sinetron berjudul “Anak Jalanan”. Tayangan ini tidak hanya menampilkan kekerasan dan unsur yang tidak patut dicontoh lainnya, namun juga menggunakan kekerasan sebagai hiburan bagi penonton; penonton merasakan adrenalin ketika melihat kekerasan di acara tersebut.
Baca juga : http://www.medialight.id/2017/09/media-light-15-indonesia-who-owns-media.html
Kekerasan tidak harus berupa kekerasan fisik—ada banyak pula tayangan yang mengandung kekerasan verbal atau perkataan. Meskipun kebanyakan acara tersebut telah ditindaklanjuti oleh Komisi Penyiaran Indonesia, acara-acara sejenis ini mengandung banyak hinaan terhadap status sosial atau kebudayaan seseorang dalam konteks humor. 

Sayangnya, baik untuk acara dengan kekerasan fisik maupun nonfisik, Komisi Penyiaran Indonesia sepertinya masih belum dapat menindaklanjuti acara-acara tersebut secara cepat.

Privasi, terutama dalam hal media sosial, juga masih memprihatinkan. Ada banyak sekali akun Facebook untuk anak-anak Sekolah Dasar sekarang, berumur di bawah 10 tahun. Kita juga sering mendengar kasus di mana seseorang memiliki hubungan dalam dunia maya dan menjadi korban penipuan. 

Para selebriti Indonesia juga sepertinya tidak mengetahui batas privasi; tidak lama ini, kita pernah menyaksikan siaran langsung di televisi tentang seorang selebriti dalam proses melahirkan. Apakah hal tersebut patut ditonton dan disebarluaskan melalui sebuah media massa ke semua kalangan? Tentunya tidak. Hanya saja, penonton ingin sesuatu yang sensasional dan mengejutkan.
Baca juga : http://www.medialight.id/2017/10/media-light-31-media-literacy-in.html
Dalam hal media anak-anak, masyarakat negara kita sepertinya bangga apabila anak mereka dapat menggunakan teknologi baru dalam umur yang relatif muda, dan membiarkan kreatifitas mereka berjalan dengan sendirinya melalui penggunaan teknologi tersebut. 

Mereka juga diberikan kebebasan penuh dalam pemilihan dan penggunaan media. Berhubungan dengan anak-anak pula, tayangan yang mengandung kekerasan di televisi memiliki jam tayang pada saat anak berada di rumah, sedangkan acara seperti kartun justru memiliki jam tayang saat mereka berada di sekolah.

Dan yang terakhir, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat pembajakan terbesar, serta tingkat penghormatan terhadap hak kreativitas yang paling rendah.
Indonesia memiliki tingkat pembajakan software yang tinggi di daerah Asia Tenggara, sedangkan Singapore memiliki tingkat yang terendah di daerah yang sama. source: msecnd.net

Mengapa hal-hal ini dapat terjadi? Yang pertama, kurangnya literasi media dan sosialisasi yang terkait dengan bidang tersebut. Yang kedua dan yang lebih penting, Indonesia memiliki semacam cultural shock dari kecepatan masuknya teknologi. 

Negara lain yang lebih maju, misalkan Amerika Serikat, mengalami tahap-tahap perubahan dalam media. Mereka mengalami masa media cetak, kemudian berubah ke radio, dan seterusnya hingga internet pada masa kini. 

Dengan adanya tahapan-tahapan tersebut, masyarakat mereka mengetahui bentuk-bentuk media dan memiliki pendidikan media. Dan jarak dari satu tahap media ke tahap yang baru cukup lama. 

Dengan munculnya satu bentuk media baru, selalu ada tanggapan-tanggapan baru; misalnya, kemunculan radio berarti akhir bagi media cetak, kemunculan televisi mengakhiri radio, dan seterusnya, meskipun pada akhirnya tanggapan ini tidak benar.

Dalam kasus Indonesia, jarak antara menyebarluasnya televisi bagi semua kalangan dengan internet tidak jauh berbeda. Perkembangan media Indonesia, terutama dalam hal aksesibilitas atau jangkauannya, berkembang dalam waktu yang tidak lama apabila dibandingkan dengan negara maju. 

Mereka mengalami pilihan, bukan tahapan. Apabila seorang anak tidak mendapat pendidikan media, kemudian ia ditawarkan antara televisi, yaitu media yang memberikan konten terus-menerus secara satu arah, dan internet, sebuah media interaktif yang seluruh isinya dapat dijangkau oleh semua umur, yang manakah yang akan ia pilih? Hal tersebut, diperkuat dengan tidak adanya edukasi mengenai media di Indonesia, melemahkan pengendalian media Indonesia.

No comments:

Powered by Blogger.