MEDIA LIGHT 8 - Membangun Literasi Media



source: eavi.eu
"Being media savvy does not mean you're media literate." - Frank W. Baker
Dari berbagai permasalahan media yang sudah dibahas, semuanya memiliki satu solusi umum; kita memerlukan literasi media untuk menjadi lebih handal dalam permasalahan media tersebut. Bagaimana kita dapat menjadi lebih media-literate? W.J. Potter (2008) memberikan 10 teknik untuk mulai membangun literasi media.

Menguatkan pendirian. Identitas diri menentukan apa yang kita cari dan kita inginkan dari kehidupan, termasuk informasi dan pengalaman yang kita cari untuk mencapai tujuan tersebut. Apa sebenarnya yang ingin kita capai? Apakah hal tersebut telah dipengaruhi oleh paparan terhadap media?

Membuat tujuan dari penggunaan media. Buatlah agar penggunaan media tidak hanya sekedar untuk mendapat informasi yang up-to-date, dan tidak hanya menyerap informasi yang kita lihat. Tentukan sebuah tujuan yang pasti; apakah kita menggunakan media untuk mencari informasi yang kita butuhkan, atau hanya semerta-merta mengambil informasi?

Mengetahui seberapa besar paparan kita terhadap media. Memetakan penggunaan media kita dalam periode tertentu akan membantu pemahaman mengenai bagaimana kita menggunakan media; berapa banyak jenis media yang kita gunakan, atau berapa banyak genre yang kita konsumsi (komedi, berita, infotainment, dst).
Baca juga : http://www.medialight.id/2017/10/media-light-31-media-literacy-in.html
Memeriksa kebiasaan. Tanyakanlah kepada diri sendiri, mengapa kebiasaan kita dalam penggunaan media dapat terbentuk. Apakah kebiasaan tersebut telah memenuhi jumlah informasi yang kita butuhkan dari media? Ataukah kebiasaan tersebut juga dipengaruhi oleh media itu sendiri? 

Mencari dasar pengetahuan yang kuat. Media menyediakan berbagai jenis informasi, dan kita harus dapat menyaring informasi tersebut; kita hanya memerlukan pengetahuan yang kita butuhkan. 

Jadi, ketika media menampilkan topik yang sesuai dengan keinginan kita, kita akan mencari lebih lanjut dari bentuk media yang lain. Sebaliknya pula, ketika media memberikan informasi yang kurang dibutuhkan, kita hanya menerimanya sebagai informasi tambahan. Dengan ini, penyaringan pesan media akan berjalan.


source: thoughtfullearning.com

Mengetahui batas antara fiksi dan non fiksi dalam media. Seringkali konten dalam media menyertakan unsur fiksi dan non fiksi dalam konten yang sama, jadi hanya membagi mereka menjadi “nyata” dan “tidak nyata” saja tidak cukup. Tangkapan kita terhadap informasi yang tidak nyata tentunya berbeda dengan menangkap yang nyata, jadi mengetahui bagian pesan yang fiksi dan yang non fiksi memiliki peran penting dalam pemahaman pesan media.

Membandingkan bentuk media. Konten media memiliki perbedaan tergantung pada bentuk media yang mereka gunakan. Menggunakan media koran tentunya memerlukan kemampuan membaca dari pengguna, apabila dibandingkan dengan menonton berita di televisi.

Mengetahui pendapat kita. Apakah pendapat kita merupakan sekedar konstruksi dari media dan opini publik, ataukah pendapat tersebut benar-benar memiliki dasar argumen yang kuat dari pengetahuan yang telah didapatkan? Memiliki pendapat yang pasti akan mempermudah kita dalam melihat masalah media yang berlangsung.

Mengubah sikap. Penguatan pendirian dan pendapat harus diikuti pula dengan perubahan sikap yang sesuai. Mengubah sikap agar mendukung usaha-usaha untuk mencapai tujuan dapat memperkuat motivasi diri.

Tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita harus mengerti apa yang harus menjadi tanggung jawab kita, dan memiliki inisiatif untuk memulai. Misalnya, obesitas merupakan masalah di Amerika Serikat, dan mereka tidak ingin mencoba untuk mengubah kebiasaan mereka, namun justru menunggu agar pemerintah memberikan solusi yang tepat terhadap kebiasaan makan banyak tersebut. Apakah kita harus menyalahkan orang lain atas kesehatan kita sendiri?

Kesimpulannya, proses untuk menjadi media-literate dimulai dari kemauan kita sendiri untuk menumbuhkannya. Kemauan tersebut akan berkembang menjadi berubahnya kebiasaan, sikap, pengetahuan lebih mengenai diri sendiri, dan seluruh bidang tersebut akan menjadi faktor yang menentukan seberapa besar literasi kita terhadap media. Namun, menjadi media literate bukan merupakan tujuan yang tetap. Akan selalu ada ruang untuk perkembangan, dan kita akan terus menerus menjadi lebih literate dari sebelumnya.


Daftar Pustaka:
  • ·         Potter, W. James. 2008. Media literacy. Thousand Oaks: Sage Publications

-           

1 comment:

Powered by Blogger.