MEDIA LIGHT 7 - Child of Media

source: hngn.com
  
"Children are great imitators. So give them something great to imitate." - Anonymous
Ketika media menampilkan konten yang tidak senonoh atau dewasa di waktu yang tidak tepat, kemungkinan besar kritik yang pertama dilontarkan oleh mereka adalah “bagaimana jika anak-anak melihat ini?”. Anak-anak merupakan kalangan yang tergolong sangat rentan terhadap pengaruh media, dengan berbagai macam alasan.

Yang pertama, tentunya karena mereka masih berada dalam tahap pertumbuhan, baik secara fisik maupun psikologis. Anak-anak masih berada dalam umur di mana imitasi adalah cara mereka menangkap sesuatu. Oleh karenanya, dalam konten kekerasan, publik menganggap ada tiga kalangan yang paling rentan terhadap imitasi kekerasan di media; anak-anak, para kriminal, dan lelaki muda yang bermain video game.

Keadaan psikologis mereka yang belum dewasa berarti mereka sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Apa yang mereka tangkap dari media tanpa penyaringan dan tuntunan dari orang tua dapat menjadi apa yang mereka pandang di dunia nyata. 

Seorang anak yang dipaparkan terus-menerus terhadap bencana alam dan tindakan kriminal dan kekerasan akan berpendapat bahwa dunia bersifat berbahaya. Sebaliknya pula, anak-anak yang menonton kekerasan dalam konteks humor atau fiksi, seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya, akan membuat mereka berpikir bahwa kekerasan seperti yang ditampilkan di televisi bersifat normal untuk dilakukan.
Baca juga : http://www.medialight.id/2017/09/media-light-11-generasi-biru-indonesia.html
Televisi tidak hanya satu-satunya media yang dapat memengaruhi anak-anak. Dengan munculnya internet, bimbingan orang tua anak menjadi lebih dari sangat diperlukan saat mereka menggunakan media tersebut. Bahkan, orang tua harus membatasi penggunaan media baru oleh anak-anak. 

Ada jenis orang tua yang memberikan media baru pada anaknya dan merasa bangga bahwa anak tersebut sudah dapat menggunakan media yang canggih pada usia muda tanpa pengawasan, meskipun pada kenyataannya tindakan tersebut bersifat kurang tepat.

Mengapa? Karena tidak seperti orang tua mereka, anak-anak ini tumbuh di era yang dikelilingi oleh media baru. Mereka belajar lebih cepat dan bahkan mengetahui trik-trik tertentu dalam menjelajahi internet yang tidak diketahui orang tua mereka. Ketika orang tua tidak dapat menggunakan media baru sebaik anak mereka, saat itu pula anak tersebut telah lepas dari pengawasan orang tua.
source: ut.ee

Dan ketika anak-anak yang masih dalam tahap imitasi dan dipenuhi rasa penasaran tersebut mengakses media tanpa dibatasi, mereka akan terkena dampak baik dan buruk dari media. Mungkin bahkan, dari sudut pandang mereka, mereka justru belum mengetahui yang mana yang baik dan buruk. Ini jelas akan berdampak buruk terhadap perkembangan mereka.

Berkaitan dengan anak-anak yang menggunakan internet, fasilitas media sosial yang tak terhitung jumlahnya juga menjadi resiko. Sebelumnya telah dibahas bahwa media sosial dapat menjadi sarang bagi para pedophiliac yang mencari sasaran empuk. Hal tersebut hanya merupakan salah satu dari berbagai bahaya yang dapat dihadapi anak-anak dalam media sosial.

Menjadi media literate dalam mempelajari resiko media terhadap anak-anak, golongan yang termasuk paling rentan terhadap media, berarti kita harus mengetahui cara untuk melindungi mereka. 

Orang tua harus memberikan pengawasan dalam penggunaan media mereka setiap saat, dan juga membatasi penggunaan media mereka. Mereka juga perlu mempelajari bentuk teknologi media yang digunakan oleh anak-anak.

Ketahui setiap akun yang dibuat mereka di internet, dan mintalah password untuk apa saja yang mereka gunakan; smartphone, password e-mail, apa saja. Seluruh perlindungan tersebut dilakukan dalam rangka agar paparan media yang didapat oleh mereka tersaring, dan mereka menggunakannya secara efektif.


Daftar Pustaka:

  • ·         Potter, W. James. 2008. Media literacy. Thousand Oaks: Sage Publications
  • ·      McDougall, Julian. 2012. Media Studies. Abingdon, Oxon: Routledge


No comments:

Powered by Blogger.