MEDIA LIGHT 6 - Media Literate terhadap Pembajakan


source: animalnewyork.com

"There is no quick fix to digital piracy." - Brad Williams
Sebelumnya, kita sudah membahas tentang keadaan isu pembajakan saat ini, beserta upaya organisasi-organisasi media dalam menanganinya. Namun, pada dasarnya, pembajakan merupakan masalah yang dibuat oleh para pengguna media, jadi kunci utama untuk menangani masalah tersebut adalah untuk mengubah cara pandang para pengguna media tersebut—membuat mereka menjadi media-literate.

Pembajakan berarti merebut karya orang lain tanpa seizin mereka. Namun, mengapa pembajakan dapat terjadi? Yang pertama adalah kurang ketatnya hukum yang diberlakukan terhadap masalah besar ini. Dan meskipun ada penanganan hukum yang sesuai, seringkali jangkauan hukum tersebut hanya mencakup daerah tertentu, sedangkan pembajakan dapat dilakukan siapa saja di seluruh dunia. 

Contohnya adalah penyelidikan besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat yang disebutkan di artikel sebelumnya. Penyelidikan tersebut hanya mencakup dan memberikan tindakan lanjut terhadap pengguna di AS, dan bukan pengguna di luar wilayah.

Yang kedua tentunya adalah kemampuan finansial pengguna. Inilah yang paling sering menjadi alasan bagi pengguna internet untuk membajak suatu produk. Faktor yang ketiga sangat berhubungan dekat dengan yang kedua, yaitu bahwa harga produk bersifat seragam untuk seluruh dunia. 
Baca juga : http://www.medialight.id/2017/09/media-light-20-media-baru-kebebasan-dan.html
Misalnya, harga program atau game yang dianggap penduduk AS relatif terjangkau berbeda halnya bagi penduduk di negara berkembang seperti Indonesia. Coba anda lihat, ada berapa orang yang anda kenal memiliki OS Windows yang didapat secara legal?

Dan yang terakhir adalah kurangnya rasa menghargai terhadap para pembuat karya tersebut. Setiap karya yang dibajak menimbulkan kerugian bagi pembuat karya tersebut, dan mengurangi motivasinya untuk membuat lebih banyak karya. Cara berpikir “Ah, hanya satu orang yang membajak” sebenarnya juga dipikirkan oleh orang lain saat membajak.
source: scienceleadership.org

Tetapi, batas pembajakan harus didefinisikan terlebih dahulu. Misalnya, pembajakan dalam hal pendidikan. Bukan dalam artian plagiasi terhadap artikel, namun lebih dalam artian mendapatkan buku pengetahuan agar pengetahuan tersebut dapat disebarluaskan. Ketika niat untuk mendapatkan pendidikan terbatasi oleh kemampuan finansial, apakah kegiatan membajak diperbolehkan?

Contoh lain adalah pengambilan karya orang lain untuk membuat karya sendiri, seperti remix musik atau semacamnya yang sering kita lihat di YouTube. Apakah karya-karya seperti itu masih dapat dikatakan membajak? 

Julian McDougall mengatakan dalam bukunya Media Studies bahwa penyebaran karya melalui internet memaksa para produser media untuk menerima bahwa audiens dapat mengupload karya mereka yang mengambil inspirasi dari karya produser sendiri—misalnya, dalam bentuk fan fiction. 

Kesimpulannya, menjadi media literate dalam memandang isu pembajakan berarti kita menggunakan pengetahuan dasar untuk melihat di mana sebenarnya batas toleransi pembajakan tersebut berada. Memang, secara garis besar, pembajakan merupakan hal yang tidak boleh dilakukan, namun apakah setiap pembajak benar-benar melakukan hal tersebut hanya karena mereka tidak ingin membayar?

Daftar Pustaka:
  • ·         Potter, W. James. 2008. Media Literacy. Thousand Oaks: Sage Publications
  • ·         McDougall, Julian. 2012. Media Studies. Abingdon, Oxon: Routledge


No comments:

Powered by Blogger.