MEDIA LIGHT 4 - Privasi di Era Informasi

source: truste.com

"The question isn't 'What do we want to know about people?', it's 'What do people want to tell about themselves?'" - Mark Zuckerberg
Topik kali ini adalah sebuah masalah yang semakin menonjol dengan menyebarnya teknologi informasi seperti internet. Di era ini, di mana semua orang pasti terhubung satu sama lain, privasi menjadi salah satu hal yang paling penting. Tentunya kita memiliki beberapa hal yang lebih baik diketahui oleh kita sendiri, baik itu merupakan identitas ataupun informasi penting lainnya.

Seperti biasa, mari kita awali dengan apa yang publik anggap sebagai “privasi”. Ketika kita bicara privasi, yang kita maksud adalah agar informasi kita tetap terjaga, dan orang-orang yang meminta informasi lebih lanjut harus terhubung dengan pihak yang dapat dipercaya, dan melalui proses yang sesuai. Inilah dasar dari privasi yang kita semua ketahui. Namun, dengan munculnya teknologi informasi dalam bentuk internet, tanpa kita sadari privasi kita telah diserang oleh berbagai pihak.

Ketika kita menjelajahi internet, informasi sekecil apapun mengenai kita pun diketahui. Misalnya, iklan-iklan yang kita lihat di hampir setiap situs berubah tergantung apa yang kita cari di internet; atau lebih tepat dikenal dengan istilah cookie. Situs-situs tersebut “merekam” apa yang kita cari dari internet, dan memberikan informasi yang dianggap diperlukan oleh pengguna.
source: irmka.scic.com



Teknologi cookie ini mempermudah pihak bisnis untuk memonitor apa yang kita lakukan setiap hari. Bank dapat mengetahui transaksi yang kita lakukan dan perubahan ke akun bank pengguna. Perusahaan mesin pencari seperti Google atau Yahoo tahu apa yang paling sering dicari pengguna. ISP seperti Telkom tahu seberapa lama seorang pengguna berada dalam sebuah situs, dan apa yang dicarinya. Bahkan bukan hanya dari pihak bisnis, satu pengguna pun dapat memonitor pengguna lainnya dengan munculnya media sosial seperti Facebook dan lainnya.

Bicara tentang media sosial, situs-situs seperti ini pun menjadi pusat utama penyerangan privasi. Ketika kita meng-klik sebuah iklan di halaman Facebook, baik disengaja maupun tidak disengaja, Facebook akan mengirimkan informasi profil kita ke pembuat iklan tersebut—termasuk nama dan alamat e-mail. 

Selain itu, stalking dan hubungan maya juga merupakan masalah. Dari tahun 2009 sampai 2013, telah dilaporkan sebanyak 1,642 laporan kasus penyerangan seksual yang berhubungan dengan media sosial, dan lebih dari setengahnya melibatkan anak-anak berusia di bawah 16 tahun.

Sering kita lihat saat kita mendaftarkan diri menjadi sebuah user dalam suatu situs, bahwa “informasi identitas yang anda masukkan ke sini hanya akan digunakan untuk pendaftaran”. Namun sebenarnya, pemilik situs tersebut memiliki akses penuh terhadap informasi pribadi pengguna, dan justru dapat menjual informasi tersebut untuk mendapat keuntungan. 

Sudah ada kasus-kasus di mana perusahaan yang awalnya menjanjikan untuk tidak memperjualbelikan informasi pengguna, terpaksa untuk melakukannya karena keadaan finansial.
source: digitaltrends.com

Penyerangan privasi juga dapat terjadi dalam bentuk lain. Mulai muncul beberapa grup yang melakukan kegiatan “doxing”. Doxing adalah penyerangan privasi dengan cara menyebarluaskan informasi seseorang dalam internet, seringkali secara anonymous. 

Seseorang menanyakan informasi tentang korban, dan orang lain yang mengenalnya akan memberikan identitas pribadi korban, seperti tempat tinggalnya. Informasi tersebut dapat diakses oleh siapa saja dan dapat berlanjut menjadi kasus bullying dalam dunia nyata.
Baca juga : http://www.medialight.id/2017/09/media-light-19-kebebasan-informasi.html
Masih ada bentuk-bentuk lain penyerangan privasi, yang semakin dipermudah dengan munculnya internet. Bahkan hanya dengan e-mail, yang sifatnya cenderung publik karena merupakan informasi kontak, perusahaan dapat membanjiri akun kita dengan iklan-iklan yang kita tidak perlu, atau lebih sering disebut dengan spam. 

Bentuk lain yang lebih berbahaya adalah ketika identitas kita diketahui; seorang hacker dapat masuk dan mengambil informasi tentang pengguna dari database sebuah site, dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Sayangnya, isu privasi ini bukanlah sesuatu yang dengan mudah dapat dicegah. Kebanyakan penegak aturan belum menguasai teknologi, dan yang lebih penting lagi, mereka belum mengerti sebuah batas yang pasti antara informasi yang pribadi dengan yang publik. Sebanyak 56% pengguna internet belum mengetahui cara kerja cookies, dan hanya 10% menggunakan browser yang menolak cookies (Pew Internet & American Life Project, 2000).
source: intertrust.com

Namun, Pengguna yang mengetahui ancaman terhadap privasi mereka mulai menggunakan cara untuk mencegahnya, seperti nama palsu, atau menjadi anonymous saat menjelajahi internet. Tindakan-tindakan seperti ini mengurangi resiko untuk menjadi sasaran empuk bagi penyerang privasi.

Mengulangi sekali lagi, besar kemungkinannya bagi seseorang untuk terhubung dengan perusahaan-perusahaan bisnis di masa ini, dan yang dapat melindungi privasi hanya diri kita sendiri. Di era di mana identitas dapat dicuri tanpa sepengetahuan pemiliknya, kita harus mengetahui sepenuhnya bahaya dan resiko yang terlibat.


Daftar Pustaka:

  • Potter, W. James. 2008. Media Literacy. Thousand Oaks: Sage Publications
  • Jain, Sankalp. 2014. "Social Networking Sites - An Emerging Threat To Online Privacy?". SSRN Electronic Journal. Diperoleh 27 Mei 2016, dari http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=2463136
  • S-W, C. (10 Maret, 2014). "What doxing is, and why it matters". Diperoleh 27 Mei 2016, dari http://www.economist.com/blogs/economist-explains/2014/03/economist-explains-9
  • Fletcher, Hannah (25 Juni, 2008). "Human flesh search engines: Chinese vigilantes that hunt victims on the web". Diperoleh 27 Mei 2016, dari http://web.archive.org/web/20090304053728/http://technology.timesonline.co.uk//tol//news//tech_and_web//article4213681.ece
  • Pettifor, Tom (1 April, 2013). "Facebook sex crimes soar: Offences via social networks more than quadruples in last four years". Diperoleh 27 Mei 2016, dari  http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/facebook-sex-attack-cases-quadruple-1795674

No comments:

Powered by Blogger.