MEDIA LIGHT 3 - Kekerasan di Media

     
source: newclearvision.com
         "Television is full of fictional and real violence that's turned into entertainment." - Bill James

Sudah diketahui sejak lama bahwa masyarakat sering mengkritisi kekerasan yang ditayangkan di media. Mereka selalu beranggapan bahwa kekerasan tersebut dapat ditiru dan berakibat dalam tindakan kriminal di dunia nyata, seperti yang telah dibuktikan banyak kasus dan berita. Namun, untuk mengawali topik kita kali ini, sebenarnya seperti apa kekerasan yang terus menerus dikritik oleh masyarakat ini?

Publik hanya menyederhanakan pengaruh dari paparan terhadap kekerasan di media menjadi “perilaku agresif”. Mereka tidak berpikir untuk membagi jenis-jenis pengaruh tersebut, apakah berdampak pada emosi penonton, pemahaman dan pandangan mereka, atau benar-benar berpengaruh pada sikap mereka. Jangka waktu paparan terhadap konten kekerasan tersebut juga berpengaruh. Singkatnya, publik masih memiliki pandangan sempit terhadap pengaruh kekerasan.

Cara pandang publik terhadap kekerasan juga masih dapat dipertanyakan. Yang pertama, mereka hanya mengkritisi adegan kekerasan yang berlebihan. Yang kedua, dan yang lebih penting, publik menganggap bahwa kekerasan diperbolehkan asalkan ada unsur humor didalamnya. Sebuah penelitian mengenai rating penonton yang dilakukan oleh Barrie Gunter menunjukkan bahwa adegan kekerasan dalam konteks fantasi, seperti kartun atau film fiksi, dianggap tidak menakutkan dan bukan termasuk kekerasan (Gunter, 1985, p.245).
Baca juga : http://www.medialight.id/2017/09/media-light-18-morality-and-media.html
Bagaimana pendapat bahwa humor dapat menjadi alasan untuk kekerasan ini muncul? Karena orang-orang menganggap bahwa humor membuat adegan kekerasan menjadi tidak menakutkan. Mereka menganggap suatu adegan merupakan kekerasan karena mereka merasa terancam.

Pendeknya, masyarakat menggunakan 3 faktor untuk menilai tingkat kekerasan suatu konten. Yang pertama, detail atau tidaknya suatu adegan dalam menayangkan kekerasan. Yang kedua, mereka lebih mementingkan bagaimana tindakan kekerasan tersebut terjadi dan digambarkan dibandingkan dengan dampak yang sebenarnya ditimbulkan pada korban dalam tindakan tersebut. Dan yang terakhir, dalam konteks humor, kekerasan diperbolehkan.

W. J. Potter (2008) berpendapat bahwa publik justru harus lebih dipaparkan terhadap konten kekerasan tanpa konteks—seperti dalam berita. Ketika mereka ditunjukkan sebuah adegan kekerasan, mereka harus merasa tersinggung, karena itu berarti mereka masih sensitif terhadap adegan kekerasan. Ketika publik ingin tingkat konten kekerasan yang grafis dalam media dikurangi, mereka mengimplikasikan bahwa jika sebuah konten kekerasan ditampilkan dalam konteks fiksi dan tidak mendetail, itu bukan adegan kekerasan.


source: studentacademichelp.blogspot.com

Dalam konteks media Indonesia saat ini, publik menganggap sinetron yang penuh dengan kekerasan tidak apa-apa untuk ditonton, karena kekerasan tersebut tidak ditampilkan secara mendetail dan berada dalam konteks fiksi. Penayangan di Indonesia juga belum memiliki aturan yang konkret, di mana anak-anak dapat melihat tayangan berupa kekerasan tersebut. 

Anak-anak merupakan jenis audiens yang mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat di televisi, karena mereka masih dalam tahap perkembangan baik secara fisik maupun mental. Mereka termasuk khalayak yang rentan terhadap media, yang akan dibahas lebih lanjut di lain waktu.

Untuk menjadi lebih media-literate terhadap kekerasan, kita harus mengartikan kekerasan bukan hanya sebagai sebuah adegan menyakiti dengan detail yang tinggi. Mungkin terdengar mudah bagi kita untuk mendefinisikan kekerasan, namun sebenarnya tidak. 

Ini karena kekerasan merupakan salah satu konsep yang paling dasar dalam hidup kita; kita tahu yang mana yang termasuk kekerasan, namun kita tidak bisa mendefinisikannya lebih lanjut. W. J. Potter memberikan sebuah daftar pertanyaan yang dapat mempermudah kita dalam mendefinisikan kekerasan untuk kita sendiri, yaitu:
  1. Apakah tindakan kekerasan harus ditujukan terhadap manusia? Bagaimana dengan kekerasan terhadap obyek, seperti mobil atau bangunan?
  2. Apakah kekerasan harus dilakukan oleh seorang manusia? Bagaimana dengan bencana alam?
  3. Apakah kecelakaan termasuk kekerasan?
  4. Apakah tindakan tersebut menyakiti? Misalkan seseorang menembakkan peluru, namun meleset. Apakah ini kekerasan?
  5. Apakah kekerasan yang tidak tertangkap di layar masih termasuk kekerasan? Misalnya ada suara jatuh dari tempat yang tinggi, namun tidak diperlihatkan secara langsung.
  6. Apakah kekerasan tersebut dapat berupa kata-kata?
  7. Bagaimana dengan fantasi? Misalkan sebuah monster menghancurkan bangunan yang berisi orang-orang, apakah ini masih termasuk kekerasan?
  8. Bagaimana dengan kekerasan dalam konteks humor?
Kesimpulannya, publik terus menganggap bahwa ada terlalu banyak konten kekerasan di media, terutama televisi, namun, pandangan mereka tentang apa yang dapat disebut kekerasan masih dangkal. Mereka mengartikan kekerasan sebagai tindakan yang grafis, dan mendorong media untuk mengurangi konten kekerasan dengan membuatnya tidak terlihat terlalu mengancam. Namun, dengan melakukan ini terus-menerus, audiens dapat perlahan menjadi acuh terhadap tindakan kekerasan.

Publik juga masih memiliki pandangan yang relatif simpel terhadap pengaruh adegan kekerasan. Mereka hanya menganggap bahwa penonton adegan kekerasan akan menirunya, dan menjadi tindakan kriminal. Namun kenyataannya, dampak adegan kekerasan masih terbagi menurut psikologi penonton.

Untuk menjadi literate dalam isu kekerasan ini, kita harus berpandangan lebih luas mengenai konten kekerasan dan dampaknya terhadap penonton. Jika media terus didorong untuk “menetralisir” adegan kekerasan dengan menghilangkan bagian yang detail, penonton tidak akan mengetahui bahaya dari kekerasan tersebut.

Daftar Pustaka:

  • Potter, W. James. 2008. Media Literacy. Thousand Oaks: Sage Publications

No comments:

Powered by Blogger.