MEDIA LIGHT 10 - Spreading the Message

Kita telah membahas berbagai masalah dan kasus media. Kita juga telah membahas cara membangun literasi media dalam diri kita. Bahkan kita juga sudah mengetahui masalah yang melanda Indonesia dalam hal media. Sekarang bagaimana pengetahuan dan kewaspadaan terhadap penggunaan media yang semena-mena tersebut dapat ditanamkan pada masyarakat luas?

Masyarakat selalu merasa bahwa mereka sudah memiliki kendali penuh dalam konten media yang mereka terima. Mereka berkata, “Ah, aku tahu cara menggunakan media. Kalau media menayangkan kekerasan, ‘kan, yang penting tidak kita tiru!” atau, “’Kan ada history penjelajahan internet, pasti aku bisa melihat apa yang dicari anak-anak!”

Meskipun pada kenyataannya mereka tidak memiliki kendali sama sekali. Misalnya, televisi bergerak berdasarkan rating; tayangan drama penuh kekerasan, meskipun tidak kita tiru isinya, masih mengumpulkan jumlah penonton yang banyak—mungkin berpikiran sedemikian rupa pula, bahwa mereka tidak akan meniru kekerasan dalam acara tersebut.
baca juga : http://www.medialight.id/2017/09/media-light-21-living-alongside.html
Acara yang memiliki penonton banyak akan menarik perhatian televisi, dan karena media pada dasarnya berupa industri berbasis keuntungan, akan memroduksi acara sejenisnya dalam jumlah yang lebih banyak. 

Satu sinetron remaja penuh konten negatif dalam konteks drama, akhirnya menyebar menjadi berbagai acara sinetron dengan tema yang hampir sama. Itu hanya satu contoh kecil, dan itupun telah terjadi.

Dan yang mengalami dampak paling buruk adalah anak-anak. Mereka adalah generasi yang tumbuh dikelilingi oleh media; pertumbuhan mereka akan dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat di media, dalam kasus ini televisi, sehari-hari. 

Dan bagaimana mereka akan tumbuh dengan baik apabila masih ada banyak acara berupa gosip-gosip mengenai selebriti, sinetron penuh unsur tidak mendidik, penggunaan kata-kata kasar dan hinaan, dan bahkan sinetron dari India?

Sayangnya, edukasi mengenai media yang formal dan tersebarluas masih belum ada di Indonesia. Dan tentunya kita tidak dapat menyuruh anak-anak untuk mengubah pendirian mereka sesuai dengan penggunaan media yang mereka inginkan, hal tersebut terlalu berat untuk dilakukan seumuran mereka. Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Salah satu caranya adalah sosialisasi. Penyebaran pesan-pesan literasi media ke sekolah atau kampung dapat menumbuhkan kesadaran mengenai literasi media—meskipun hanya sedikit. Cara kedua adalah melalui jurnalisme warga. 

Radio lokal dan semacamnya dapat digunakan untuk mendidik pendengarnya; mereka tidak terikat oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Dan masih banyak pula pengguna radio di masa ini. 

Atau mungkin kita dapat menggunakan media yang tergolong paling banyak digunakan saat ini; internet, melalui blog—seperti ini—atau video yang mudah dicerna oleh penonton semua kalangan.

Namun, pada akhirnya, keputusan untuk berubah menjadi media literate tersebut berada pada diri individu. Pembicara dan penyebar pesan tidak dapat memaksa khalayak untuk berubah. Mereka mungkin ingin berubah apabila ada teman-teman mereka yang juga ikut serta. 

Atau mereka mungkin hanya akan mengacuhkan pesan-pesan tersebut. Begitu pula dengan anda yang membaca blog ini. Apa yang akan anda lakukan dengan pengetahuan yang anda dapatkan dari blog ini?

source: pinterest.com

No comments:

Powered by Blogger.