MEDIA LIGHT 1 - Berita dan Jurnalisme


source: ebu.ch

"The man who never looks into a newspaper is better informed than he who reads them." - Thomas Jefferson
Perkataan Thomas Jefferson di atas, "Seseorang yang belum pernah membaca koran lebih berpengetahuan daripada yang membacanya", mengimplikasikan bahwa koran dipenuhi dengan kebohongan yang belum tentu dapat dipercaya. Untuk mengawali materi-materi yang akan disampaikan dalam blog ini, mari kita mulai dari jenis informasi yang paling sering ditayangkan dalam semua jenis media, yaitu berita. 

Setiap kita mendengar kata “berita”, yang terbayang daalm benak kita adalah suatu kejadian yang benar-benar terjadi, nyata, dan tidak dibuat-buat. Namun pada kenyataannya, berita bukan benar-benar merupakan refleksi kejadian. Berita hanyalah sebuah laporan yang dikonstruksi oleh para jurnalis untuk disampaikan kepada khalayak. 

Menurut W. James Potter (2008), Para jurnalis ini pun dipengaruhi oleh faktor-faktor yang memengaruhi berita seperti apa yang mereka produksi. Faktor yang pertama adalah deadline. Jurnalis tidak dapat mengumpulkan informasi tentang suatu kejadian apabila kejadian tersebut belum berakhir sampai setelah deadline media. 

Misalnya, koran harian memiliki deadline sebelum hari berakhir, dan apabila ada suatu kejadian penting setelah jam itu, kejadian tersebut tidak akan dimuat dalam koran hari itu. Masalah ini dianggap kecil karena adanya fasilitas berita online, namun jurnalis dalam bentuk media tersebut juga terpengaruhi faktor-faktor berikutnya.


Faktor yang kedua adalah keterbatasan sumber daya, baik sumber daya manusia ataupun teknologi yang digunakan. Ketika sebuah perusahaan berita ingin meliput sesuatu, mereka mengirimkan sebuah tim ke lokasi, yang membutuhkan persiapan terlebih dahulu. Jadi, perusahaan harus menentukan kejadian mana yang lebih penting untuk diliput.

Yang terakhir adalah keterbatasan geografis. Perusahaan berita biasanya hanya meliput kejadian yang ada di area kerja mereka. Masalah ini juga terlihat di Indonesia saat ini, dengan banyaknya berita yang terfokus pada daerah Jakarta dan sekitarnya dibandingkan dengan wilayah bagian timur Indonesia.
source: pinterest.com

Adapun faktor-faktor yang mendorong bagaimana sebuah perusahaan membingkai suatu kejadian dalam bentuk berita. Yang pertama dan paling utama, tujuan akhir sebuah perusahaan media tentunya adalah keuntungan. Jadi, sebuah perusahaan media tidak akan meliput kejadian yang dianggap menyinggung khalayak utama mereka, ataupun para sponsor yang mendukung mereka. Hal ini dapat mengakibatkan sebuah bias terhadap berita. 

Sebaliknya, perusahaan media lebih cenderung mencari berita yang dapat mengumpulkan banyak penonton, seringkali bersifat sensasional. Schudson (2003) menyampaikan bahwa jumlah berita yang tidak bersifat berat (politik, ekonomi, dan sebagainya) meningkat dari 35% di tahun 1980 menjadi 50% di tahun 1998. Cara pandang bahwa “hal yang bersifat sensasional lebih menguntungkan” ini akan mempengaruhi berita apa yang diliput sebuah perusahaan.

Yang terakhir adalah sumber yang digunakan jurnalis dalam mengumpulkan informasi. Seringkali jurnalis tidak mengetahui siapa yang menjadi ahli dalam suatu masalah. Kebanyakan dari mereka tidak mendapat pendidikan, sehingga informasi yang didapatkan belum tentu cukup dan sesuai.

source: thehumblei.com

Semua faktor di atas membentuk apa yang kita sebut sebagai perspektif berita. Berbagai dorongan dan batasan mempengaruhi tindakan jurnalis, sehingga berita yang disusun satu jurnalis belum tentu sama dengan jurnalis yang lain. Pertanyaannya adalah, bisakah jurnalis bersifat objektif?

Para jurnalis pun dapat mengabaikan etika jurnalisme demi mendapat keuntungan. Misalnya, karena ia belum mendapatkan informasi yang cukup mengenai suatu bahan berita, ia dapat membuat-buat informasi untuk melengkapi berita tersebut. Ataupun sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah berita yang mengejutkan dan sensasional dengan sengaja tidak memasukkan beberapa fakta yang penting dalam mengkonstruksi berita.
Baca juga :http://www.medialight.id/2017/10/media-light-27-idealisme-jurnalis.html
Mereka juga terpengaruh oleh bias; memilih-milih berita atau materi yang diliput berdasarkan apa yang ia inginkan dan tidak inginkan. Contoh yang sering terlihat adalah bias dalam pihak politik yang dipilih jurnalis. Seringkali para audiens tidak mengetahui apakah berita yang mereka lihat merupakan hasil dari bias atau bukan. 

Dan yang terakhir dan paling penting untuk diliput adalah konteks kejadian. Misalnya, ada sebuah berita mengenai seorang pembunuh yang tertangkap. Si jurnalis dapat memodifikasi konteks berita dengan memasukkan informasi bahwa si pembunuh juga telah mengambil nyawa beberapa kali sebelumnya. 

Namun pada kenyataannya belum ditemukan senjata yang digunakan oleh pembunuh ataupun bukti-bukti yang kuat yang menunjuk pada si pembunuh. Cara pemberitaan ini dapat memengaruhi bagaimana audiens menangkap berita.
source: journalism.org

Kesimpulannya, untuk menjadi terinformasi akan kejadian di sekitar kita setiap hari, hanya melihat berita secara rutin saja belum cukup. Sekali lagi, berita hanyalah sebuah konstruksi dari para jurnalis. Berita pada permukaannya tidak lebih dari sekedar pesan untuk menarik perhatian audiens dan memberikan keuntungan bagi pihaknya. Untuk benar-benar memahami berita, kita tidak hanya menerima berita apa adanya, melainkan memahaminya lebih dalam.

Yang pertama, kita menganalisa perspektif berita tersebut dan konteksnya. Perusahaan media yang mengeluarkan sebuah berita pastinya memiliki sebuah reputasi—misalnya, perusahaan media A diketahui lebih cenderung lebih memihak pihak politik X, dan sebagainya. Reputasi perusahaan tersebut memengaruhi berita yang mereka keluarkan, dan bias yang mungkin mereka ambil.

Yang kedua, tentunya jangan hanya menerima berita dari satu sumber. Selain menjadi berpandangan sempit terhadap suatu kejadian, kemungkinan besar berita tersebut juga dipengaruhi oleh kebutuhan perusahaan, sehingga memberikan informasi yang salah. 

Selanjutnya, bersifat skeptis (ragu-ragu atau kritis) terhadap opini publik. Opini publik saat ini bersifat dangkal dan terbentuk hanya karena berita sedikit menginformasikan mereka. Sebagai contoh, tanyakan teman anda mengenai keadaan politik saat ini. Apakah opini yang mereka berikan bersifat solid dan memiliki dasar argumen yang kuat, atau hanya merupakan bentukan dari "kata orang lain”? Kebijakan publik dan demonstrasi besar-besaran muncul dari opini-opini publik ini.

Akhir kata, untuk menjadi melek media dalam konteks berita dan jurnalisme, kita harus secara aktif mencari sumber-sumber sebagai dasar informasi yang tidak disediakan media mainstream. Kita semestinya berhati-hati dalam menganalisa berita dan konteksnya agar kita dapat memroses pesan berita secara lebih tepat.


Daftar pustaka:
  • Potter, W. James. 2008. Media Literacy. Thousand Oaks: Sage Publications

No comments:

Powered by Blogger.